Masalah listrik belakangan ini menjadi topik pembicaraan masyarakat, selain kasus KPK tentunya (kasus bank century udah pada lupa kayaknya). Hal ini karena terjadinya pemadaman bergilir di Jakarta. Hal ini bukan hal baru bagi saudara2 kita di kalimantan atau sumatera, tapi topik ini naik karena terjadi di Jakarta, media merasakan imbas langsungnya, lalu di blow up lah.
Permasalahan mulai muncul sebab terbakarnya gardu PLN di Cawang, beberapa hari Jakarta mati lampu lalu kemudian menyala kembali. Masyarakat aman damai sampai akhirnya PLN tidak mampu lagi memanjakan warga jakarta dan terpaksa mengadakan pemadaman listrik bergilir. Masyarakatpun gerah (ya gerah lah malem2 di jakarta ga ada kipas/AC) dan bertanya, mengeluh kepada PLN, menyalahkan PLN.
Saya bukan mau membela PLN, tapi kasihan juga lho PLN. PLN itu bukan seperti pertamina yang kaya raya bergelimang harga (no offense buat orang2 pertamina ya). Setelah diskusi dengan teman2 saya di milis, saya jadi tahu bahwa PLN sebenarnya pasti merugi. Kenapa pasti merugi? soalnya harga jual lebih murah daripada harga produksi, ya rugi. Di subsidi memang, tapi ya tetep aja negara rugi kan.
Saya disini bukan mau membahas sebab2 kenapa merugi, kenapa harga produksi tinggi, dan lain-lainnya. Bukan juga mau menawarkan solusi alternatif seperti mikro hidro, PLTN, geothermal atau apapun. Karena saya tidak punya kompetensi dalam hal-hal tersebut. Yang saya ajak disini adalah agar kita berhemat.
Ya memang, semua orang sudah tahu kalau kita harus hemat listrik, tapi berapa orang sih yang benar2 hemat? kita kan masih berpikir begini “gw mampu kok bayar listrik, ya terserah gw dong mau pake berapa banyak, kan gw bayar” Baca Lanjutannya…